Rabu, 04 April 2012

teori skinner


TEORI BELAJAR SKINNER

BIOGRAFI
Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Skinner lahir di Susquehanna, Pennsylvania. Dia meraih gelar master pada tahun 1930 dan Ph.D. pada tahun 1931 dari Harvard University. Gelar B.A. diperoleh dari Hammilton College, New York. Dia mengambil jurusan sastra Inggris. Usaha awal Skinner untuk menjadi penulis banyak gagalnya sehingga dia mulai berpikir untuk menjadi psikiater. Dia akhirnya bekerja di industri batubara sebagai penulis dokumen hukum. Buku pertamanya yang ditulis bersama ayahnya, berisi soal-soal dokumen hukum dan diberi judul A Digest of Decisions of the Anthracite Board of Conciliation. Setelah menyelesaikan buku ini Skinner pindah ke Greenwich Village di New York City.
Skinner mengajar psikologi di University of Minnesota antara 1936 dan 1945 dan selama masa ini, dia menulis buku teksnya yang amat berpengaruh, The Behavior of Organism (1938).  Pada tahun 1945, Skinner pindah ke Indiana University untuk menjabat ketua jurusan Fakultas Psikologi. Pada tahun 1948 dia kembali ke Harvard, dan menetap di sana untuk seterusnya. Sampai sekitar tahun 1970 Skinner menjadi tokoh yang paling banyak dibicarakan orang dalam tradisi behavioris.
TEORI SKINNER
·         Behaviorisme Radikal
Skinner mengadopsi dan mengembangkan filsafat ilmiah yang dikenal sebagai radical behaviorism. Orientasi ilmiah ini menolak bahasa ilmiah dan interpretasi ilmiah yang mengacu pada mentalistic event (kejadian mental). Beberapa isi belajar behavioristik menggunakan istilah seperti dorongan, motivasi, dan tujuan untuk menjelaskan aspek tertentu dari perilaku manusia dan nonmanusia. Skinner menolak jenis istilah ini karena istilah itu merujuk pada pengalaman mental yang bersifat pribadi dan menurutnya menyebabkan psikologi kembali ke bentuk non ilmiah. Menurut Skinner, aspek yang dapat diamati dan diukur dari lingkungan, dari perilaku organisme, dan dari konsekuensi perilaku itulah yang merupakan materi penting untuk penelitian ilmiah.

·         Perilaku Responden dan Operan
Skinner membedakan 2 jenis perilaku: respondent behavior (perilaku responden), yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang dikenali, dan operant behavior (perilaku operan) yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh organisme. Contoh dari perilaku responden adalah semua gerak refleks seperti menarik tangan ketika tertusuk jarum, menutunya kelopak mata saat terkena cahaya menyilau, dan keluarnya air liur saat ada makanan. Contoh perilaku operan adalah tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan, atau anak yang meninggalkan suatu mainan dan beraih ke mainan lainnya. Kebanyakan aktivitas keseharian kita adalah perilaku operan. Perilaku responden bergantung pada stimulus yang mendahuluinya, sedangkan perilaku operan dikontrol oleh konsekuensi atau respons yang dihasilkan. Riset Skinner hampir semuanya berkaitan dengan pengkondisian operan.
B.F. Skinner meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
·         Kotak Skinner
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. Karena dorongan lapar, tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak ke sana ke mari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
·         Perilaku Takhayul
Menurut prinsip pengkondisian operan, kita dapat memperkirakan bahwa perilaku yang dilakukan hewan ketika mekanisme memberi makan diaktifkan dan diperkuat, dan hewan akan cenderung mengulangi perilaku yang diperkuat itu. Setelah beberapa saat, perilaku yang diperkuat akan muncul lagi saat mekanisme pemberi makan aktif lagi, dan responnya akan semakin kuat. Jadi hewan bisa mengembangkan respon ritualistik yang aneh; ia mungkin menyerudukkan kepalanya, atau berputar-putar, berdiri dengan kaki belakang, atau melakukan sederetan tindakan lain yang pernah dilakukannya ketika mekanisme pemberian makan mendadak aktif. Perilaku ritualistik ini disebut sebagai takhayul (superstitious) karena hewan itu sepertinya percaya bahwa apa yang dilakukannya akan menyebabkan datangnya makanan. Karena penguat dalam situasi ini tidak bergantung pada perilaku hewan, maka ia dinamakan noncontingent reinforcement (penguatan nonkontingen).
Contohnya, tiap orang pasti mempunyai satu hal yang dianggapnya benda keberuntungan. Seperti salah satunya penyanyi yang bernama Taylor Swift yang menyukai angka 13, sehingga sebelum pentas dia menuliskan angka 13 di tangannya supaya konsernya lancar. 
Menurut salah satu teori Behavioristik, hal itu masuk dalam Superstitious behaviour. Menurut Skinner yaitu adanya perilaku tertentu yang oleh individu diyakini sebagai penyebab keberhasilan, namun pada dasarnya tidak demikian. Perilaku takhayul muncul ketika penguat atau hukuman terjadi ketika ada jarak waktu yang berdekatan dengan perilaku utamanya. Oleh karena itu, perilaku yang sengaja diperkuat atau mendapat hukuman, meningkatkan kemungkinan bahwa perilaku terjadi lagi. Jadi rasa kepercayaan akan sesuatu yang dimiliki orang yang tanpa sebab yang jelas atau pengetahuan yang pasti  itu masuk dalam  supertitious behaviourm.
·         Operan Diskriminatif
Pada kotak skinner dikondisikan sedemikian rupa agar hewan menekan tuas saat lampu menyala, hewan mendapatkan secuil makanan. Dan jika lampu padam, hewan tidak menekan tuas dan tidak mendapatkan makanan. Dalam kondisi ini cahaya menyala didefinisikan ( SD ), cahaya padam (SΔ ). Itu adalah pengembangan dari operant deskriminatif, yang merupakan respon operan yang diberikan untuk satu situasi tetapi tidak untuk situasi lainnya. Tatanan ini dapat disimbolkan sebagai berikut: SD ®R®SR di mana R adalah respons operan dan SR adalah stimulus yang menguatkan. Jadi operan diskriminatif melibatkan suatu sinyal yang menimbulkan respons yang pada gilirannya menimbulkan penguatan. Contohnya pada kehidupan sehari–hari. Saat sedang mengendarai sepeda motor, kita bertemu dengan lampu merah ( SD) yang menyebabkan berhenti (R). Oleh sebab itu kita tidak terkena tilang atau kecelakaan (SR).
·         Penguatan Sekunder
Penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik seperti pujian verbal, ekspresi wajah yang menyenangkan, pemberian penghargaan, menghargai kesuksesan, memberi nilai, peringkat, dan memberi kesempatan siswa untuk mengerjakan sesuatu yang diinginkannya. Dalam pembelajaran Skinner menyatakan bahwa pemberian hadiah lebih efektif dalam merubah perilaku seseorang daripada menggunakan hukuman.
Berdasarkan prinsip penguatan sekunder, pemasangan cahaya dengan makanan akan menyebabkan cahaya memiliki properti penguatan tersendiri. Cara untuk mengujinya adalah dengan melenyapkan respons penekan tuas, sehingga ketika hewan menekan tuas tidak ada makanan atau miuman yang diberikan. Pada saat tingkat respon penekan tuas ini menurun ke level operan, penekanan tuas itu diatur agar menyalakan cahaya tetapi tidak menghasilkan makanan. Dalam hal ini skinner mencatat ada peningkatan respons. Karena cahaya itu meningkatakan tingkat respon dan cahaya itu juga memperlama pelenyapan. Dapat dikatakan bahwa cahaya itu memiliki karakteristik penguat tersendiri melalui asosiasinya dengan makanan pada masa training.
·         Penguatan yang Digeneralisasikan
Generalized reinforce (penguat yang digeneralisasikan) adalah penguat sekunder yang dipasangkan dengan lebih dari satu penguat utama. Keuntungan dari penguat yang digeneralisasikan adalah tidak tergantung pada kondisi deprivasi agar bisa efektif. Contohnya makanan dan uang, hanya akan memperkuat untuk organisme yang kelaparan, tetapi uang dapat dipakai sebagai penguat tanpa tergantung seseorang kelaparan atau tidak. Setiap aktivitas yang pernah menyebabkan penguatan mungkin akan menjadi penguatan itu sendiri.
                              Skiner terkenal dengan konsep Functional Autonomi (autonomi fungsional) dari Gordon Allport (1961) berpendapat bahwa meskipun suatu aktivitas pernah dilakukan karena aktivitas itu menimbulkan penguatan, setelah beberapa waktu aktivitas itu sendiri menjadi suatu penguat.
·         Perantaian
Yang disebut dengan proses perantaian atau proses berantai adalah Suatu respon dapat membawa organisme berhubungan dengan stimuli yang bertindak sebagai SD untuk respons lainnya, yang pada gilirannya akan menyebabkannya mengalami stimuli yang menyebabkan respons ketiga, dan seterusnya. Misalnya, tindakan menekan tuas dalam kotak skinner bukan merupakan proses yang tunggal. Stimulus dalam kotak skinner bertindak sebagai SD menyebabkan hewan mendekati tuas. Saat melihat tuas hewan akan mendekatinya dan menekannya. Penekan mekanisme pemberi makanan bertindak sebagai SD tambahan, yang menyebabkan hewan mendekati makanan. Tindakan memakan makanan berperan sebagai SD, yang menyebabkan hewan mendekati tuas dan menekannya kembali. Dalam hal ini potongan makanan bertindak sebagai penguat positif utama. Dapat dikatakan bahwa berbagai elemen rantai perilaku disatukan oleh penguat–penguat sekunder, namun keseluruhan rantai perilaku tergantung pada penguat utama.
·         Penguat Positif dan Negatif
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati, Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
·         Hukuman ( punishment )
Punishment terjadi ketika suatu respons menghilangkan sesuatu yang positif dari situasi atau menambahkan sesuatu yang negatif. Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinannya mengurangi perilaku yang sama.     Argumen utama Skinner menentang penggunakan hukuman adalah bahwa hukuman itu dalam jangka panjang tidak efektif. Jadi hukuman sering kelihatannya sangat berhasil padahal ia sebenarnya hanya menghasilkan efek temporer. Ada beberapa argumen yang menentang hukuman yaitu :
a)       Hukuman menyebabkan efek samping emosional yang buruk.
b)       Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan organisme, bukan apa yang seharusnya organisme.
c)       Hukuman menjustifikasi tindakan menyakiti pihak lain.
d)       Berada dalam situasi di mana perilaku yang dahulu dihukum kini dapat dilakukan tanpa mendapat hukuman lagi mungkin akan akan menyebabkan anak merasa diperbolehkan melakukannya lagi.
e)       Hukuman akan menimbulkan agresi terhadap pelaku penghukum pihak lain.
f)        Hukuman sering mengganti respons yang tidak diinginkan dengan respons yang tak diinginkan lainnya.

·         Alternatif untuk hukuman
         Situasi yang menyebabkan perilaku yang tidak diinginkan bisa diubah, dan itu akan mengubah perilaku. Misalnya, memindahkan gelas hiasan dari ruang keluarga akan mengeliminasi problem anak memecahkan barang itu. Respons yang tidak diinginkan dapat diubah menjadi menjemukan dengan cara membiarkan organisme melakukan respons yang tak diinginkan itu sampai ia bosan. Cara lainnya, adalah membiarkan waktu yang menentukan, tetapi cara ini boleh jadi akan terlalu lama. Kebiasaan tidak mudah dilupakan. Alternatif lainnya adalah memperkuat perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku yang tidak diharapkan (misalnya, anak diajak untuk membaca sebelum ia bermain korek api ketimbang menemukannya karena bermain korek api).
·         Perbandingan Skiner dan Thorndike
Antara Skiner dan Thorndike terdapat banyak persamaan pendapat dalam sejumlah isu penting, tetapi juga mempunyai perbadaan diantara keduanya. Perbedaan ini diantaranya pengkondisian operan Skiner dengan pengkondisian Instrumental Thorndike mengilustrasikan bahwa dua pendekatan itu berbeda dan istilah operan dan instrumental tidak dapat digantikan. Sehingga Skiner dianggap revolusioner dalam sejarah teori belajar.
·         Jadwal Penguatan
Meskipun Pavlov melakukan penelitian penguatan parsial, menggunakan pengkondisian klasik, tetapi Skinnerlah yang secara meneliti secara menyeluruh topik ini. Skinner telah mempublikasikan data tentang efek dari penguatan parsial ketika Humphreys mengguncang dunia psikologi dengan menunjukkan bahwa proses pelenyapan adalah lebih cepat sesudah penguatan 100 persen ketimbang sesudah penguatan parsial. Artinya, jika suatu organisme menerima penguat setiap kali ia membuat respon yang tepat selama proses pelenyapan, maka responnya akan lenyap lebih cepat ketimbang organisme dengan respons benar yang tidak mencapai 100 persen. Skinner telah mempublikasikan tentang penguatan parsial. Penguatan parsial akan menyebabkan resistensi yang lebih besar terhadap pelenyapan ketimbang penguatan yang berkelanjutan atau penguatan 100 persen, dan fakta ini dinamakan Partian Reinforcement Effect  ( PRE).
Skinner mempelajari efek penguatan parsial ini secara ekstensif dan akhirnya menulis sebuah buku bersama Ferster yang diberi judul Schedules of Reinforcement. Ada beberapa penguatan yang lazim dipakai yaitu :
1.       Continuous Reinforcement Schedule ( CRF ), jadwal penguatan berkelanjutan.
Dengan menggunakan CRF, setiap respons yang tepat selama akuisisi akan diperkuat. Dalam studi penguatan parsial, hewan dilatih dahulu pada jadwal penguatan 100 persen dan kemudian dipindah ke penguatan parsial.
2.       Fixed  Interval Reinforcement Schedule ( FI ), jadwal penguatan internal tetap.
Dengan menggunakan FI, hewan akan diperkuat untuk satu respons yang dibuat hanya setelah sederet interval waktu. Pada awal interval waktu tetap, hewan merespons dengan lambat atau bahkan tidak merespons sama sekali. Saat akhir waktu interval makin dekat, hewan pelan–pelan meningkatkan kesempatan responsnya, dan tampak mengantisipasi momen penguatan. Jenis respons ini menghasilkan suatu pola pada pencatatan komulatif yang disebut Fixed interval scallop.
3.       Fixed Ration Reinforcement Schedule ( FR ), jadwal penguatan rasio tetap.
Setiap respons ke–n yang dilakukan hewan akan diperkuat. Faktor penting menentukan kapan suatu respons diperkuat adalah jumlah dari respons yang diberikan. Secara teori, hewan pada jadwal interval tetap dapat membuat satu respons saja disetiap akhir interval dan diperkuat setiap kali ia merespons. Dengan jadwal rasio tetap hal itu tidak mungkin; hewan harus merespons sejumlah tertentu sebelum diperkuat.
 Postreinforcement pause terjadi saat penguatan FI dan FR, respons yang diperkuat diikuti oleh depresi (penurunan) tingkat respons. Jadwal FR biasanya menghasilkan garis seperti undak–undakan, yang menunjukkan bahwa hewan secara temporer berhenti memberi respons setelah suatu respons diperkuat dan kemudian, pada satu titik tertentu, kembali merespons dengan cepat.
4.       Variable Interval Reinforcement Schedule ( VI ), jadwal penguatan interval variabel.
Hewan diperkuat setelah memberi respons pada akhir interval dari durasi variabel. Yakni, alih – alih menggunkan interval waktu tetap, seperti dalam jadwal FI, hewan itu diperkuat pada rata – rata. Jadwal ini mengeliminasi efek yang menyebabkan garis berlekuk – lekuk seperti yang dijumpai di jadwal FI dan menghasilkan tingkat respons yang tetap dan moderat.
5.       Variable Ratio Reinforcement Schedule ( VR ), jadwal penguatan rasio variabel.
 Mengeliminasi bentuk undak – undakan dalam catatan komulatif seperti yang dijumpai pada jadwal FR dan menghasilkan tingkat respons yang tertinggi di antara lima jadwal yang telah dibahas sejauh ini.
6.       Cuncurrent Schedule and the Mathcing Law
Skinner (1950) melatih burung dara untuk mematuk 2 kunci operan yang tersedia pada saat yang bersamaan tetapi memberikan penguat di bawah jadwal yang berbeda. Prosedur ini dinamakan sebagai concurrent reinforcement schedules (jadwal penguatan secara bersamaan).
7.       Cuncurrent Chain Reinforcement Schedule
Jadwal penguatan bersama di pakai untuk meneliti perilaku pilihan-sederhana, sedangkanconcurrent chain reinforcement schedule (jadwal penguatan rantai secara bersamaan) di pakai untuk meneliti perilaku pilihan kompleks. Dengan jadwal rantai bersama ini perilaku hewan selama fase awal eksperimen akan menentukan jadwal penguatan apa yang akan di alaminya selama fase kedua atau fase penghentian.
Apa yang mengubah preferensi kepenguat kecil dan langsung menjadi preferensi ke penguat besar dan tidak langsung? jawabannya tampaknya adalah waktu. Ditunjukkan bahwa penguat kehilangan nilai penguatannya seiring dengan berlalunya waktu. Jadi, suatu organisme mungkin memeilih penguat kecil jika penguat itu langsung tersedia tetapi ia tidak akan merencanakannya untuk masa depan. Jika ada penundaan, organisme cenderung memilih penguat yang lebih besar. Schwartz, Wasserman, dan Robbins menggeneralisasikan temuan ini untuk manusia.
Misalnya ada pilihan antara ninton film di bioskop dan belejar di waktu malam kita bisa membayangkan bahwa pergi nonton bioskop akakn menghasilkan penguatan kecil tetapi langsung (hiburan malam), sedangkan belajar menghasilkan penguatan besar yang tertunda (lulus ujian denga nilai bagus) . Ketika diberi pilihan antara belajar mulai jam 7:45 malam atau meneonton bioskop. Namun jika pilihan itu tersedia pada jam 9 pagi, sehingga kedua penguat itu mengalami penundaan, maka siswa akan memilih belajar pada malam itu. 
·         Aplikasi teori Skinner terhadap pembelajaran
Menurut Skinner, gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. Menajemen kelas adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat.
                Menurut skinner belajar akan berlangsung sangat evektif apabila: (1) informasi yang akan dipelajari disajikan secara bertahap; (2) pembelajar segera diberi umpan balik mengenai akurasi pembelajaran mereka (yakni, setelah belajar mereka segera diberitahu apakah mereka sudah memahami informasi dengan benar atau tidak); (3) pembelajar mampu belajar dengan caranya sendiri. Seperti behavioris lainnya, skinner memulai pembelajaran dengan langkah yang sederhana ke yang kompleks. Perilaku kompleks dianggap terdiri dari bentuk-bentuk perilaku sederhana. Bagi skinner, motivasi hanya penting untuk menentukan apa yang akan bertindak sebagai penguat untuk siswa tertentu.

·         Prinsip-prinsip pembelajaran menurut Skinner:
1.         Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2.         Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan benar diperkuat.
3.         Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4.         Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5.         Proses lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostik.
6.         Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7.         Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8.         Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9.         Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10.     Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).
11.     Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
12.     Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13.     Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14.     Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15.     Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.






Skenario pembelajaran
Teori                 : penguatan postif dan negatif
Materi               : trigonometri – identitas trigonometri
Kelas                : X SMA

Pemeran
Guru     : Muhammad Arifin
Siswa   :           Susi      : siswa yang cerewet yang selalu ngajak ngobrol
Farhah  : siswa cerewet yang selalu ngobrol
Rifati    : pendiam
Sekti     : aktif

Dalam skenario kita akan menerapkan beberapa teori :
·         Pengutan positif dan negatif
1.       Siswa  yang pendiam  sering ditanya, kemudian disuruh mengerjakan soal dan diberi apresiasi. Kemudian siswa tersebut menjadi aktif.
2.       Guru mengetahui nama siswa yang aktif. Sedangkan yang pendiam tidak tahu.
3.       Siswa bermain hp kemudian guru menegurnya dan memberikan nasehat. Kemudian guru memberikan soal dan suruh mengerjakan, siswa tersebut tidak bisa menyelasaikan.
Langkah-langkah skenario pembelajaran:
1.       Siswa di kelas siap menerima pelajaran.
2.       Guru membuka pelajaran dengan memberi salam.
3.       Guru menanyakan  materi yang kemarin kepada siswa.
4.       Guru meminta siswa untuk membuka modul pembelajaran yang sudah mereka punya.
5.       Guru menyampaiakan materi pelajaran  tentang identitas trigonometri.
6.       Guru meminta siswa untuk mengerjakan beberapa soal latihan yang ada di modul.
7.       Guru memberi kesempatan pada siswa mengerjakan soal di depan kelas.
8.       Guru melihat hasil pekerjaan siswa. Jika salah guru memberikan semangat kepada siswa dan membantunya membenarkan jawaban. Jika benar guru memberikan penghargaan berupa pujian dan hadiah kepada siswa.
9.       Guru mencocokkan kembali jawaban siswa dan memberikan jawaban-jawaban yang benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar