Rabu, 24 Oktober 2012

faktor sikap dalam pembelajaran

1
Bagaimana Cara Guru Memanfaatkan Faktor Sikap
dalam Pembelajaran Matematika?
Fadjar Shadiq
(fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com)
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 (Depdiknas, 2006) tentang Standar
Isi Mata Pelajaran Matematika menyatakan bahwa tujuan nomor 5 pelajaran
matematika di sekolah adalah agar para siswa: “Memiliki sikap menghargai
kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu,
perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.” Untuk mencapai tujuan sebagaimana
diformulasikan pada kalimat di atas maka artikel ini disusun dengan maksud
untuk membantu guru agar dapat: menjelaskan pengertian sikap; menjelaskan
pentingnya para siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
rangka meningkatkan motivasi mereka dalam proses pembelajaran matematika;
dan menjelaskan usaha-usaha yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan
sikap menghargai kegunaan matematika. Namun sebelum membahas faktor
sikap, artikel ini, lebih dahulu akan membahas faktor afektif.
Faktor Afektif
Seorang siswa ditengarai gurunya tidak menyukai pelajaran matematika. Hal ini
ditandai dengan sikapnya yang acuh tak acuh ketika berada di kelas. Di samping
itu, ternyata juga bahwa kemampuan berpikir si siswa tadi tidak begitu baik.
Sebagai akibatnya, dapatlah diduga bahwa hasil belajar si siswa tersebut tidak
akan menggembirakan. Hal ini menunjukkan benarnya pendapat para pakar
yang dirangkum Norjoharuddeen (2001) yang telah menyatakan bahwa terdapat
dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran matematika pada diri
setiap siswa, yaitu: (1) faktor kognitif dan (2) faktor non-kognitif. Faktor kognitif
sendiri berkait dengan kemampuan otak dalam berpikir. Contoh faktor kognitif
adalah kemampuan mengingat ataupun bernalar. Sedangkan faktor non-kognitif
berkait dengan kemampuan di luar kemampuan otak dalam berpikir. Contohnya,
perasaan tidak senang mempelajari matematika.
Masih menurut Norjoharuddeen (2001), terdapat dua faktor non-kognitif yang
dapat mempengaruhi proses pembelajaran matematika siswa, yaitu: (1) faktor
afektif dan (2) faktor metakognitif. Berdasar pendapat Flavell sebagaimana
dikutip Schoenfeld (1985:363), istilah metakognitif mengacu pada dua hal, yaitu:
2
1. Pengetahuan atau kesadaran seseorang tentang proses berpikir dirinya
sendiri, seperti: “Saya sudah menguasai bahan ini.”
2. Pengendalian diri (kontrol atau self regulation) selama berpikir, seperti: “Saya
harus melakukan kegiatan A, lalu kegiatan B dan saya harus hati-hati di
bagian C.”
Faktor afektif mengacu pada berbagai perasaan (feelings) dan kecenderungan hati
(mood) yang secara umum termasuk kepada hal-hal yang tidak berkait dengan
kemampuan berpikir. Ada tiga faktor afektif yang dapat mempengaruhi proses
pembelajaran matematika siswa, yaitu:
1. Keyakinan (beliefs). Contohnya ada siswa yang meyakini bahwa matematika
merupakan pelajaran yang sangat menyenangkan karena tidak terlalu banyak
menghafal, namun hanya perlu pemahaman saja.
2. Sikap (attitude). Contohnya, siswa pada contoh nomor 1 di atas memiliki sikap
menyukai mata pelajaran matematika.
3. Emosi (emotion). Contohnya, siswa yang selalu tidak berhasil mempelajari
matematika lalu menjadikannya memiliki perasaan membenci matematika
dan guru matematikanya.
Contoh di atas menunjukkan bahwa ada kaitan di antara ketiga faktor tadi.
Ketiga faktor tadi memainkan peran dalam membantu siswa untuk menghargai
mata pelajaran matematika dan membantu siswa mengembangkan rasa percaya
diri terhadap kemampuan dirinya. Karena itulah, peran faktor sikap sebagai
bagian dari faktor afektif sangat menentukan keberhasilan maupun kegagalan
mempelajari matematika.
Pengertian Sikap (Attitudes)
Rajecki sebagaimana dikutip Norjoharuddeen (2001) menyatakan: “Attitudes
refers to the predisposition to respond in a favourable or unfavourable way with respect to
a given object (i.e., person, activity, idea, etc).” Artinya, sikap (attitudes) mengacu
kepada kecenderungan seseorang terhadap respon yang berkait dengan
‘kesukaan’ ataupun ‘ketidaksukaan’ terhadap suatu objek yang diberikan (seperti
orang, kegiatan, ataupun gagasan). Sebagaimana proses terbentuknya keyakinan,
maka terbentuknya sikap seorang siswa terhadap matematika memerlukan
waktu yang relatif lama. Keyakinan dan sikap terbentuk sedikit demi sedikit
yang merupakan hasil interaksi si siswa dengan mata pelajaran matematika.
Sikap siswa terhadap matematika dapat berupa sikap positif yang dapat
membantu siswa untuk menghargai mata pelajaran matematika dan membantu
siswa mengembangkan rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya;
sedangkan sikap negatif tidak dapat membantu siswa untuk menghargai mata
pelajaran matematika dan tidak dapat membantu siswa mengembangkan rasa
percaya diri terhadap kemampuan dirinya.
Contoh beberapa sikap negatif adalah adanya sebagian siswa tidak menyukai
matematika. Penyebabnya di antaranya adalah:
1. Persepsi umum tentang sulitnya matematika berdasar pendapat orang lain.
3
2. Pengalaman belajar di kelas yang diakibatkan proses pembelajaran yang
kurang menarik hati siswa.
3. Pengalaman di kelas sebagai hasil perlakuan guru (contohnya, guru yang
selalu mencemooh dirinya).
4. Persepsi yang terbentuk oleh ketidak berhasilan mempelajari matematika.
5. Tidak mengetahui kegunaan matematika.
Pentingnya Menghargai Kegunaan Matematika
Diakui atau tidak, matematika sudah merambah ke segala segi kehidupan. NRC
(1989:1) menyatakan bahwa matematika adalah dasar dari sains dan teknologi.
Matematika akan memainkan peran yang sangat besar dan menentukan terhadap
kejayaan suatu bangsa. Namun pada sisi yang lain, banyak siswa yang
menganggap matematika adalah mata pelajaran yang sangat sulit, menjemukan,
hanya berkait dengan bilangan, hanya berkait dengan kegiatan menghafal, dan
lain sebagainya. Masalahnya, jika ada siswa yang menganggap bahwa
matematika sulit atau malah ada yang berpendapat atau sampai memiliki
keyakinan bahwa ia tidak pernah berhasil mempelajari matematika atau tidak
berbakat mempelajari matematika, maka si siswa tersebut akan mengalami
kesulitan di bangku kuliah maupun di tempat kerjanya.
Sekali lagi, NRC (1989:1), telah menyatakan bahwa dunia kerja lebih
membutuhkan pekerja cerdas daripada pekerja keras. Artinya, kemampuan atau
kompetensi matematika akan semakin dibutuhkan di masa depan mereka. Suka
atau tidak suka, mereka harus mengembangkan sikap untuk mau mempelajari
matematika atau aplikasi matematika seumur hidupnya. Sikap seperti ini tidak
akan pernah muncul jika selama di sekolah mereka mengalami hal-hal yang
negatif ketika mempelajari matematika. Itulah sebabnya, menurut Permendiknas
nomor 22, para siswa seharusnya memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan
minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah. Namun seperti dinyatakan di atas, para siswa tidak akan
pernah memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat yang baik dalam
mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri selama proses
pemecahan masalah; jika mereka mengalami hal-hal negarif selama proses
pembelajaran matematika di kelasnya.
Bagaimana Caranya agar Siswa Menghargai Matematika
Memang benar bahwa sikap negatif siswa terhadap matematika akan
dipengaruhi juga oleh pengalaman mereka ketika belajar matematika di SD, SMP,
maupun SMA/SMK. Namun sebagai guru, tugas kita semua untuk
menghilangkan sikap negatif para siswa terhadap matematika sedikit demi
sedikit, sedemikian sehingga mereka memiliki sikap positif terhadap matematika.
Namun pertanyaan yang dapat diajukan adalah: Bagaimana caranya agar sikap
positif para siswa terhadap matematika dapat meningkat? Secara umum dapat
4
dinyatakan di sini bahwa cara paling efektif untuk meningkatkan sikap positif
terhadap matematika adalah dengan menunjukkan contoh konkret tentang
kegunaan matematika kepada para siswa dan membantu mereka agar berhasil
mempelajari matematika. Karena itu, upaya peningkatan sikap positif terhadap
matematika sangat bergantung kepada penyebab munculnya sikap negatif
terhadap matematika. Sebagai contoh, jika ada orang tua yang selalu menyatakan
kepada anaknya bahwa: “Matematika merupakan pelajaran yang sulit.” atau
“Saya selalu mendapat nilai 2,5 ketika ulangan matematika.” Kedua pernyataan
di atas akan menyebabkan si siswa sudah merasa bangga jika ia sudah mendapat
nilai 3 karena ia merasa nilai yang didapatnya sudah melebihi nilai orang tuanya.
Jika dari hasil wawancara dengan siswa, fakta penyebab rendahnya sikap siswa
terhadap matematika tersebut dapat terungkap, maka akan lebih mudah bagi
guru matematikanya untuk merubah persepsi yang salah tersebut.
Lebih terinci, beberapa saran yang dapat dilakukan guru matematika agar sikap
negatif terhadap matematika pada diri siswanya dapat berubah menjadi sikap
positif di antarnya adalah:
1. Mengaitkan materi matematika yang diajarkan dengan situasi nyata atau
yang berkait dengan program keahlian para siswa. Contohnya, materi
matematika tentang bunga mejemuk dapat dikaitkan dengan harga tanah
yang selalu naik k% setiap empat bulan. Pembelajaran seperti ini dikenal
sebagai pembelajaran realistik atau kontekstual. Dengan cara seperti ini
diharapkan para siswa akan mengerti kegunaan matematika di dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Proses permbelajaran dimulai dengan suasana yang nyaman, tidak
menakutkan, dan tanpa ada rasa`cemas pada diri siswa. Guru berusaha
membawa dunia siswa yang ramai dan sedikit ‘hura-hura’ ke dunia sekolah
untuk menghilangkan sekat-sekat yang ada di antara guru dan siswa. Namun
dengan suatu tujuan luhur agar guru tersebut dapat dan mampu memimpin
dan membantu para siswanya sehingga si guru dapat membawa para
siswanya ke tujuan yang didambakan setiap siswanya. Dengan cara seperti ini
diharapkan para siswa akan menyenangi matematika.
3. Dengan ketulusan dan keihlasan hatinya, setiap guru matematika diharapkan
akan selalu berusaha untuk membantu siswanya agar mereka bisa
mengerjakan tugas matematikanya dengan baik. Tidak hanya itu, ia akan
membantu siswanya yang cepat dengan tambahan soal yang lebih sulit atau
dengan memberikan penghargaan kepada siswa yang cepat tadi dengan
mempercayainya untuk membantu temannya. selanjutnya, ia akan menjadi
pendengar yang baik bagi para siswanya, dan ia akan selalu menghargai
pendapat siswanya yang salah tanpa menyakiti hatinya, dan secara perlahan
namun pasti, ia akan selalu berusaha untuk dapat meyakinkan siswanya
bahwa ia salah; dan dapat mengubah pendapat yang salah tersebut ke arah
yang benar. Dengan cara seperti ini, para siswa yang merasa tidak memiliki
bakat matematika, sedikit demi sedikit akan merasa bahwa ia dapat
mempelajari matematika asal ia mau belajar dengan sungguh-sungguh. Si
guru juga tidak akan segan-segan untuk memuji setiap siswanya yang sudah
5
berusaha; namun masih salah. Sekali lagi, untuk kasus seperti ini, si guru
akan membantunya dengan tulus.
4. Tidak pernah menyatakan atau menunjukkan dengan perbuatan bahwa
matematika itu sulit di depan para siswa. Poses pembelajaran yang
dilakukannya akan selalu dimulai dari hal-hal yang mudah, ke sedang, dan
diakhiri dengan hal-hal yang sulit. Dengan cara seperti ini, para siswa yang
merasa matematika sangat sulit, sedikit demi sedikit akan merasa bahwa
matematika itu sejatinya tidak terlalu sulit dan tidak menjemukan.
5. Memperlakukan siswanya sebagai manusia yang sederajat dengannya yang
memiliki perasaan, sikap, pendapat, keinginan, dan emosi yang kadangkala
sama dan kadangkala juga berbeda. Tidak pernah memcemooh dan
merendahkan siswanya; serta dapat membangun perasaan saling percaya,
saling memiliki, dan saling menghargai dengan siswanya. Tidak segan untuk
menyemangati misalnya dengan mengatakan: “Ayo kamu pasti bisa.”
Daftar Pustaka
Schoenfeld, A.H. (1985). Metacognitive and epistemological issues in
mathematical understanding. Di dalam Silver, E.A. (ED) Teaching and
Learning Mathematical Problem-Solving. New Jersey : LEA.
Depdiknas (2006). Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Sekolah
Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas.
NRC (1989). Everybody Counts. A Report to the Nation on the Future of Mathematics
Education. Washington DC: National Academy Press
Norjoharuddeen b. Mohd Nor (2001) Belief, Attitudes and Emotions in Mathematics
Learning. Makalah disajikan pada diklat PM-0917. Penang: Seameo-
Recsam.
NRC (1989). Everybody Counts. A Report to the Nation on the Future of Mathematics
Education. Washington DC: National Academy Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar